DPC PDI Perjuangan Kota Tomohon Teguhkan Pengorganisiran Akar Rumput Menuju 2029
25 April 2026
Pengurus DPC PDI Perjuangan Kota Tomohon mengikuti Sekolah Partai yang dilaksanakan secara daring oleh DPP PDI Perjuangan melalui Zoom pada Jumat, 24 April 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan kapasitas jajaran struktural partai, khususnya dalam memahami arah pengorganisiran akar rumput, konsolidasi ideologis, tata kelola organisasi berbasis data, serta pengukuran kinerja partai menuju agenda politik 2029.

Materi Sekolah Partai tersebut menjadi pengingat penting bagi jajaran Ketua, Sekretaris, Bendahara, serta seluruh struktur partai bahwa perjuangan politik tidak cukup hanya mengandalkan popularitas figur, kegiatan seremonial, atau aktivitas menjelang pemilu. Lebih dari itu, PDI Perjuangan dituntut hadir secara konsisten di tengah rakyat, memahami persoalan rakyat, serta mengubah ideologi perjuangan menjadi kerja nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Dalam materi yang disampaikan serta diskusi oleh seluruh peserta, ditegaskan bahwa tantangan politik menuju 2029 tidak ringan. Kondisi politik nasional menuntut partai untuk tidak berdiam diri, apalagi terjebak pada romantisme masa lalu. Konsentrasi kekuatan oligarki, penggunaan bantuan sosial sebagai alat kontrol elektoral, derasnya propaganda dan manipulasi opini publik, serta melemahnya kesadaran politik rakyat menjadi tantangan nyata yang harus dijawab dengan kerja organisasi yang lebih radikal, sistematis, dan terukur.
Salah satu pokok penting yang ditekankan adalah perlunya repolitisasi rakyat secara ideologis dan terorganisir. Rakyat tidak boleh hanya ditempatkan sebagai objek elektoral yang didekati saat pemilu, melainkan harus menjadi subjek utama perjuangan politik. Karena itu, struktur partai dari DPC, PAC, ranting, hingga anak ranting harus bergerak sebagai alat perjuangan yang hidup, bukan sekadar nama dalam susunan kepengurusan.
Dalam konteks tersebut, pengurus partai didorong untuk memiliki basis massa yang jelas, kader binaan yang nyata, serta program kerja yang menyentuh kebutuhan rakyat. Struktur yang tidak bergerak, tidak membina kader, tidak memiliki basis, dan tidak menjalankan program rakyat dipandang bukan sebagai kekuatan, melainkan beban organisasi. Oleh sebab itu, konsolidasi internal, evaluasi kinerja, dan ketegasan organisasi menjadi syarat penting untuk memperkuat kembali daya juang partai.
Materi Sekolah Partai juga menekankan pentingnya politik kehadiran. Di tengah situasi ketika bantuan sosial dan narasi populis kerap digunakan sebagai instrumen elektoral, PDI Perjuangan harus menjawabnya bukan dengan retorika, melainkan dengan kehadiran yang konsisten. Partai harus hadir sebelum, saat, dan sesudah pemilu melalui program-program nyata di bidang kesehatan, pendidikan, pendampingan ekonomi rakyat, advokasi sosial, perlindungan perempuan dan anak, serta penyelesaian persoalan-persoalan konkret yang dihadapi masyarakat.
Bagi DPC PDI Perjuangan Kota Tomohon, pesan tersebut menjadi sangat relevan. Kerja politik harus semakin diarahkan pada penguatan hubungan langsung dengan rakyat di kelurahan, lingkungan, komunitas, kelompok profesi, kelompok pemuda, kelompok perempuan, petani, buruh, pelaku UMKM, serta masyarakat kecil yang membutuhkan pendampingan. Partai harus menjadi rumah perjuangan rakyat, tempat rakyat menyampaikan masalah, dan tempat kader turun mencari solusi.
Selain pengorganisiran akar rumput, materi Sekolah Partai juga memberi perhatian besar pada pentingnya tata kelola organisasi berbasis data. Partai tidak lagi cukup bergerak berdasarkan asumsi, perasaan, atau kebiasaan lama. Setiap langkah politik harus dilandasi pemetaan yang jelas: di mana basis kuat, di mana wilayah abu-abu, di mana wilayah lemah, siapa kader aktif, siapa simpatisan potensial, isu apa yang berkembang, dan masalah rakyat apa yang harus segera ditangani.
Data yang dimaksud tidak semata-mata berupa angka statistik yang rumit. Catatan lapangan, laporan PAC dan ranting, aspirasi masyarakat, peta persoalan kelurahan, respons publik, hingga dokumentasi kegiatan juga merupakan bagian dari data organisasi. Dengan data tersebut, DPC dapat mengambil keputusan yang lebih tepat, menyusun prioritas kerja, serta menghindari pola kerja yang hanya mengandalkan dugaan.
Dalam materi tersebut juga ditegaskan bahwa PDI Perjuangan perlu memperkuat indikator kinerja partai melalui pendekatan yang lebih objektif. Kinerja partai tidak cukup diukur dari berapa kali rapat dilakukan, berapa banyak spanduk dipasang, atau berapa banyak kegiatan seremonial dibuat. Ukuran politik yang lebih penting adalah berapa kader aktif yang terbentuk, berapa basis massa yang loyal, berapa suara yang dapat dikonsolidasikan, berapa masalah rakyat yang diselesaikan, dan sejauh mana partai hadir secara nyata di wilayah basis.
Karena itu, pengenalan konsep KPI atau Key Performance Indicator dan OKR atau Objective and Key Results menjadi penting dalam kerja partai modern. KPI membantu mengukur kinerja organisasi secara berkala, sedangkan OKR membantu menetapkan tujuan besar dan hasil kunci yang ingin dicapai. Dalam konteks DPC, indikator tersebut dapat mencakup capaian elektoral, pertumbuhan anggota dan KTA, keaktifan PAC dan ranting, keterpenuhan anak ranting, dokumentasi kegiatan, respons media sosial, laporan keuangan, serta efektivitas program rakyat.
Empat area utama kinerja partai yang ditekankan dalam materi adalah kinerja elektoral, kinerja organisasi, kinerja komunikasi dan citra publik, serta kinerja keuangan. Keempatnya harus berjalan secara terpadu. Kemenangan elektoral membutuhkan organisasi yang hidup. Organisasi yang hidup membutuhkan komunikasi publik yang kuat. Komunikasi publik yang kuat membutuhkan kerja nyata di lapangan. Dan semua itu membutuhkan tata kelola keuangan yang tertib, efisien, transparan, serta sesuai aturan.
Pada aspek komunikasi publik, materi Sekolah Partai mengingatkan bahwa digitalisasi tidak boleh dipisahkan dari organisasi. Viral tidak selalu berarti elektoral, dan jumlah suka di media sosial tidak otomatis menjadi suara. Karena itu, kerja digital harus terhubung dengan kerja lapangan. Setiap isu yang muncul di ruang digital harus diterjemahkan menjadi gerakan nyata di bawah. Setiap kegiatan rakyat harus didokumentasikan dengan baik, dikomunikasikan secara positif, dan diarahkan untuk memperluas kepercayaan publik terhadap partai.
DPC PDI Perjuangan Kota Tomohon memandang bahwa pesan ini penting untuk diterapkan dalam kerja-kerja kepartaian ke depan. Setiap kegiatan partai harus memiliki tujuan, target, penanggung jawab, dokumentasi, tindak lanjut, dan evaluasi. Kegiatan tidak boleh berhenti pada seremoni, tetapi harus menghasilkan dampak: bertambahnya kader, meningkatnya simpati rakyat, terselesaikannya persoalan masyarakat, menguatnya jaringan organisasi, dan tumbuhnya kepercayaan publik.
Materi Sekolah Partai juga menegaskan kembali pentingnya membumikan ideologi Marhaenisme dalam kerja nyata. Ideologi tidak boleh berhenti sebagai teori atau jargon politik. Ia harus hadir dalam bentuk keberpihakan kepada wong cilik, pembelaan terhadap rakyat kecil, program yang menjawab kebutuhan masyarakat, serta kesediaan kader untuk turun langsung bersama rakyat. Satunya kata dan perbuatan menjadi ukuran moral bagi kader partai.
Dalam semangat itu, DPC PDI Perjuangan Kota Tomohon berkomitmen memperkuat kerja kolektif seluruh jajaran partai. Ketua, Sekretaris, Bendahara, PAC, ranting, anak ranting, badan, sayap partai, kader, dan simpatisan harus menjadi satu kesatuan gerak. Tidak ada ruang bagi struktur yang hanya aktif di atas kertas. Setiap kader harus memiliki tanggung jawab politik, tanggung jawab ideologis, dan tanggung jawab sosial kepada rakyat.
Sekolah Partai ini menjadi momentum refleksi dan konsolidasi. PDI Perjuangan sebagai partai ideologis harus terus memperkuat kedisiplinan organisasi, memperluas basis rakyat, membangun sistem kerja berbasis data, dan menghadirkan program-program nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat. Tahun 2029 bukan semata-mata tentang kontestasi pemilu, tetapi juga tentang arah perjuangan politik: apakah rakyat hanya menjadi objek kekuasaan, atau kembali ditempatkan sebagai subjek utama perjuangan bangsa.
Dengan semangat gotong royong, DPC PDI Perjuangan Kota Tomohon siap menindaklanjuti arahan dan materi Sekolah Partai melalui kerja organisasi yang lebih terarah, terukur, dan berpihak kepada rakyat. Partai harus hadir bukan hanya saat kampanye, tetapi setiap saat ketika rakyat membutuhkan pendampingan, pembelaan, dan jalan keluar.
PDI Perjuangan bukan sekadar peserta pemilu. PDI Perjuangan adalah alat perjuangan rakyat.
Merdeka!
Related Posts
List more related posts